“Saya nggak mau di pondok lagi Pah” keluh sang anak kepada Papa nya. “Kenapa? Bukankah yang memilih mondok itu kamu sendiri” sang Papa menjawab sambil coba memahami alasan si anak. Anaknya menjawab: “Di pondok bangunnya jam 3 pagi, aku ngantuk terus siangnya, tapi nggak bisa tidur siang”.

Dialog ini pernah ada, dan nyaris papa anak itu membawa pulang anaknya untuk berhenti mondok. Tapi dibujuknya dengan berbagai rayuan dan hadiah. Akhirnya, 3 tahun tak terasa si anak berhasi lulus pendidikan tahap pertama di pondok.

Sang ayah saat itu belum memahami ucapan Imam Zaid bin Aslam, tapi dia sudah merasakan sekarang bahwa pondok pesantren adalah ‘tungku peleburan’ pembentukan ketakwaan. Si Papa itu beruntung !

طُوبَى لِمَنْ رَقَدَ إِذَا نَعَسَ، وَاتَّقَى اللَّهَ إِذَا اسْتَيْقَظَ

“Beruntunglah orang yang tidur tatkala dia mengantuk dan bertakwa pada Allah ketika dia bangun”

[ Zaid Bin Aslam Abu Usamah ]