“Teman yang baik bukanlah yang selalu membenarkan, tetapi yang bisa berkata benar”. Ya, benar, ungkapan ini mengajarkan bahwa pertemanan adalah yang bisa saling menasehati. Bila satu pihak tidak ingin dinasehati dengan kebenaran maka hancurlah pertemanan.
Dalam dunia anak-anak, secara naluriah, anak-anak biasa saling mengingatkan sesuai kadar pemahaman anak tentang kebaikan. Tetapi anak yang paling mampu memberi argumentasi dan penjelasan akan menjadi pihak yang berpengaruh dan diikuti oleh anak-anak lainnya. Dan mereka akan tetap tentram bermain bersama walau yang satu mempengaruhi yang lainnya. Inilah pertemanan yang tulus.
Saat dewasa, dalam pertemanan bukan hanya ketulusan yang dibutuhkan, tapi pengetahuan kebenaran Islam untuk disampaikan kepada teman. Inilah sejatinya pertemanan. Saling memperindah sesuai ketentuan syariat.
الصاحب للصاحب كالرقعة للثوب، إن لم تكن مثله شانته
“Seorang teman terhadap temannya bagaikan tambalan bagi baju, bila tidak ada kesesuaian akan menjelekkannya”
[ Bahjatul Majalis, 150. Imam al-Auza’i رحمه الله]