Seseorang ditanya, untuk apa dia menuntut ilmu? Bahkan sampai jauh ke negeri seberang, untuk apa? Dia menjawab, agar tidak diazab Allah swt dan agar doanya dikabulkan. Yang bertanya kembali bertanya, bila demikian, kenapa masih mengejar gelar dari pendidikan itu dan mencari pekerjaan yang sesuai dengan ilmunya? Dia kembali menjawab, semua itu bagian dari kausalitas pendidikan yang ditempuh.

Pertanyaan dan jawaban di atas memang hanya imajinatif. Tetapi bila diperhatikan, ya begitulah seharusnya. Dua pertanyaan di atas itu menggambarkan keadaan masyarakat sekarang ini. Dan jawabannya adalah arahan dari syariat Islam.

Menjalani kausalitas dari aktifitas adalah kewajiban. Dengan dalil aqli sifat perbuatan manusia yang bersifat fisik. Sedangkan menuntut ilmu supaya tidak diazab Allah SWT karena pengamalan pertama dari ilmu dalam Islam adalah berdakwah amar makruf nahyi mungkar. Inilah yang  membawa pada doa yang pasti dikabulkan dan terjaga dari azab.

Rasulullah SAW. bersabda,

“Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya. Kamu harus melakukan amar makruf dan nahi mungkar, ataupun jika tidak, Allah bisa segera menimpakan azab dari sisi-Nya dan ketika kamu berdoa tidak dikabulkan-Nya.”

(HR Ahmad dan Tirmidzi)