“Bagaimana kabar … , sehat?” Pertanyaan dari seorang teman sambil menyebut nama seorang pembina pondok kami. Walau wajar, tersirat sesuatu yang spesial, karena memang mungkin nama itu yang diingatnya. Kami faham bahwa permasalahan perjodohan dan berpasangan adalah hal yang alami, biasa saja, dan wajar selama masih dalam batas syariat Islam. Dan bagi kami dan pondok manapun, masalah pergaulan pria dan wanita pada santri harus diperhatikan dan diawasi dengan sangat baik, termasuk untuk semua pembina juga pengasuh. Bagi kami urusan perjodohan dan jenjang lanjutannya diserahkan kepada walisantri walau tetap sedia bila dimintakan bantuan dan pertimbangan. Tugas kami adalah mendidik, sambil mempersiapkan para santri sebaik mungkin menjadi seorang ibu yang mumpuni dan seorang bapak yang tangguh. Keduanya harus siap dalam mengemban dakwah dan memahamkan umat dengan Islam. Urusan rasa cinta para santri dan lanjutannya sudah ada penanggungjawabnya dan ketentuannya.
قد تستحكم المودة بين شخصين من غير ملاحة في صورة ولا حسن في خلق و خلق، ولكن لمناسبة توجب الألفة والموافقة
《 إحياء علوم الدين، أبو حامد محمد بن محمد الغزالي، ٦١٦ 》
“Terkadang cinta itu tumbuh diantara dua orang, tanpa perantara indahnya perawakan satu sama lain atau baiknya akhlak diantara keduanya, akan tetapi karena suatu kesesuaian batin sehingga dapat menumbuhkan kasih dan kecocokan.”
[ Imam Al Ghazali rahimahullah ]
=======