“Santri hafal Qur’an itu bukan tanda dia pernah mondok, tapi harusnya jadi dzikirnya dia.” Begitu Guru kami memberi arahan saat kami sampaikan tentang hafalan santri kami. Di pondok bagi semua santri dibiasakan menghafal dengan penguatan dan tambahan sesuai kemampuan. Bahasa kami based on ability, berdasarkan kemampuan. Dan alhamdulillah banyak lulusan yang hafalannya banyak dan ada juga yang sedikit. Yang terpenting adalah hafalannya bisa menjadi dzikir hariannya dan dorongan untuk mengamalkan isinya. Lebih lagi bisa jadi bahan untuk berdakwah memahamkan Islam kepada umat. Ini yang tidak akan menjadi penyesalan apalagi kerugian.
أنه يؤمن العبد من الحسرة يوم القيامة. فإن كل مجلس لا يذكر العبد فيه ربه تعالى كان عليه حسرة وترة يوم القيامة.
《 الوابل الصيّب من الكلم الطيّب، للشيخ ابن قيم الجوزية، ٤٤ 》
“Sesungguhnya (berdzikir) itu mengamankan seorang hamba dari penyesalan (kerugian) di hari kiamat. Karena sesungguhnya setiap majelis yang tidak ada di dalamnya dzikrullah, akan menjadi penyesalan yang terus menerus di hari kiamat.”
[ Ibnul Qayyim rahimahullah ]
=======