“Burungnya bunyi terus.” Ucap tamu kami di pondok. Alhamdulillah, di pondok dipelihara ikan dan beberapa ekor burung. Jenis burung yang dipelihara, perkutut, tekukur, cica ijo, merpati, bahkan burung emprit. Burung-burung itu hampir semuanya dari hadiah beberapa kawan, keluarga dan sahabat pondok. Sangkarnya digantung di halaman pondok dan teras, tidak lupa ada seorang teman yang rutin membantu membersihkan dan memberinya pakan. Bila pagi hari, mereka nyaris semuanya berbunyi, tanda sebagai zikir mereka kepada Allah SWT. Harusnya kita bisa mengambil ibroh dari burung-burung tersebut, zikir kepada Allah SWT, serta zikir yang lebih baik lagi, yaitu menerapkan semua hukum Allah SWT dalam seluruh sendi kehidupan. Bila tidak, itu berarti maksiat, dan itu tidak berzikir.

قال ميمونُ بن مهران:

ذِكرُ اللهِ باللّسانِ حسنٌ، وأفضلُ منه أنْ يذكُرَ اللهَ العبدُ عند المعصيةِ فيُمْسِكَ عَنها.

《 جامع العلوم والحكم، الإمامُ ابنُ رجبٍ، ١/ ٢٥٤ 》

“Zikir mengingat Allah SWT dengan lisan adalah sebuah kebaikan.

Namun yang lebih utama darinya adalah seorang hamba mengingat Allah SWT ketika akan bermaksiat lalu dia menahan diri dari kemaksiatan tersebut.”

[ Maimun bin Mihran rahimahullah ]